25

1755hrs. November 30, 1984.

Hazaril Firdaus Ali kini berusia 25 tahun. Seangkatan dengan sesetengah jenama, organisasi, bangunan atau institusi di Malaysia, aku sudahpun layak mengadakan majlis sambutan jubli perak aku sendiri. Heh.

Pertama-tamanya (sampai sekarang aku masih tak pasti, frasa ni boleh pakai atau tak), ingin aku ajukan penghargaan buat kakak-kakak dan abang-abangku (baik yang sepupu mahupun yang kandung, semuanya) atas kesudian mengingati hari besarku ini, dan sanggup meminjamkan beberapa saat menghantar SMS atau coretan pendek (atau panjang) di Facebook dan Friendster buatku – terima kasih tak terhingga.

Buat tunangku, Zamnorashikin – hadiah yang tidak tersangka itu sungguh, masih dan tetap akan melekat di hati dan minda; kan kukenangi sampai nyawaku merajuk pergi. Thanks for loving me that much. (‘-^)

Sebukit terima kasih (gunung dah ada orang reserve) yang lain pula buat rakan taulan sahabat handai, atas sumbangan perilaku yang sama – aku hargai keprihatinan kalian.

Bulan, bintang, gunung, air laut, semut – seisi semesta semuanya pula adalah paling layak adalah untuk aku kalungkan ke dada seseorang yang ini.. yang tanpanya, makna ‘jubli perak’ sekalipun takkan sempat untuk aku cerna di minda:

Thank you Mama, for strongly carrying me in that luvly tummy for months, for patiently raising me for the past quarter century,  and for moling me into a more-than-perfect human being as what I am today. Me, being 25, is far from possible without having you around. Thanx still, though zillions thanx won’t do as much as you’ve done for me. Love you,  Mama.. and will forever do. (derived from the very same text message sent to her – exact words and sentences).

Semuanya – doakan aku hidup dalam rahmat dan restu-Nya sehingga beberapa jubli lagi, atau sentap saja nyawaku tika dan saat ini juga, jika hayatku bakal jadi siaan cuma.

 :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Ibuku..
mengapa engkau menangis
apakah yang kurang
walaupun ayah telah tiada
itu tak bermakna akhirnya hidup kita
ibuku tenangkanlah hatimu
kerana suria akan pasti menjelma
usia mudaku tak menghalang diriku
untuk membela dirimu..

Ayahku..
walaupun engkau gugur
kerna Pertiwi
namun jasamu ku kenang selalu
kumahkotakan ke puncak cemara
nanti bila aku sudah dewasa
inginku menjadi pemimpin negara
akan kubela nasib kita
itulah sumpah anakmu..

Dari itu hentikan tangisan
pandanglah masa depan
betapa aku cinta padamu
pelukanmu menguatkan semangatku
duhai ibuku
dengarkanlah lagu
untukmu…

..credits to m nasir & kembara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s